Beranda / Haba Porang / Timbang Bersama 8,2 Ton Porang, KTP-Bumi Pajo Raup Omzet Rp90,4 Juta pada Panen 2026

Timbang Bersama 8,2 Ton Porang, KTP-Bumi Pajo Raup Omzet Rp90,4 Juta pada Panen 2026

“Kami memilih tetap menggunakan sistem timbang dan jual bersama karena lebih menguntungkan anggota. Dengan jumlah yang besar, pembeli lebih mudah datang langsung ke lokasi, sementara harga yang diperoleh juga lebih stabil dan kompetitif,” ujar Sugiyanto.

Dari total produksi sebanyak 8.227 kilogram, jumlah hasil panen setiap anggota sangat beragam. Anggota dengan hasil panen terkecil hanya membawa sekitar 12 kilogram umbi porang karena masih dalam tahap awal pengembangan kebun. Sementara itu, anggota dengan hasil panen terbesar berhasil menyumbangkan sekitar 1,9 ton, menunjukkan keberhasilan budidaya yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir.

Perbedaan hasil panen tersebut dipengaruhi oleh luas lahan, umur tanaman, serta jumlah bibit yang dimiliki masing-masing petani. Sebagian besar anggota masih terus memperluas areal tanam karena melihat prospek porang yang semakin menjanjikan. Bahkan, beberapa petani telah menambah lokasi budidaya hingga ke luar Desa Bumi Pajo untuk meningkatkan produksi pada musim panen berikutnya.

Keberhasilan tahun ini menjadi tonggak penting bagi KTP-Bumi Pajo. Pasalnya, kegiatan timbang bersama tahun 2026 merupakan penjualan kolektif kedua yang dilaksanakan sejak kelompok menerapkan sistem tersebut. Pada musim panen tahun 2025, kelompok ini berhasil menjual sekitar 6 ton porang. Setahun kemudian, produksi meningkat menjadi 8,227 ton, atau bertambah lebih dari 2,2 ton.

Peningkatan produksi tersebut menunjukkan bahwa budidaya porang semakin diterima oleh masyarakat Desa Bumi Pajo. Tanaman yang dahulu hanya dikenal oleh sebagian kecil petani kini mulai menjadi komoditas unggulan baru karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, pola budidayanya dinilai tidak mengganggu tanaman utama seperti jagung, sehingga dapat dijadikan sumber pendapatan tambahan bagi keluarga petani.

Sugiyanto menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari kekompakan seluruh anggota kelompok. Seluruh proses mulai dari budidaya, pendampingan teknis, penimbangan, hingga penjualan dilakukan secara bersama-sama dengan mengedepankan prinsip transparansi dan gotong royong. Menurutnya, kebersamaan merupakan modal utama dalam membangun usaha tani porang yang berkelanjutan.

Halaman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *