Porangbumipajo.com – Kelompok Tani Porang (KTP) Bumi Pajo kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun tata niaga porang yang profesional dan menguntungkan bagi seluruh anggotanya. Pada Minggu, 28 Juni 2026, seluruh anggota kelompok dijadwalkan mengikuti kegiatan penimbangan hasil panen porang secara serentak sebelum dipasarkan kepada para pembeli. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda rutin yang selalu dinantikan karena merupakan tahapan akhir setelah proses budidaya yang telah dilakukan selama bertahun-tahun dengan penuh kesabaran dan kerja keras.
Kegiatan penimbangan tahun ini dipusatkan di lokasi yang telah disepakati oleh seluruh anggota kelompok. Sejak pagi hari, para petani akan membawa hasil panennya dari kebun masing-masing menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Umbi porang yang telah dipanen sebelumnya telah dibersihkan dari tanah dan dipilah berdasarkan kualitas, kemudian dikemas ke dalam karung agar memudahkan proses penimbangan dan pengangkutan menuju lokasi transaksi. Seluruh proses dilakukan secara gotong royong sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan dan efisien.
Ketua Kelompok Tani Porang Bumi Pajo, Sugiyanto, menjelaskan bahwa total porang yang akan ditimbang pada musim panen kali ini mencapai sekitar 135 karung. Jumlah tersebut merupakan akumulasi hasil panen anggota yang berasal dari berbagai titik penanaman di Desa Bumi Pajo, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, serta beberapa lahan pengembangan di wilayah lain yang dikelola oleh anggota kelompok. Menurutnya, jumlah tersebut masih berpotensi bertambah apabila terdapat anggota yang baru menyelesaikan proses panen dalam beberapa hari ke depan.
Sugiyanto mengatakan bahwa KTP Bumi Pajo sejak awal menerapkan sistem jual bersama sebagai strategi untuk memperkuat posisi tawar petani. Berbeda dengan sistem penjualan secara individu yang sering kali membuat petani menerima harga yang berbeda-beda, sistem kolektif memungkinkan seluruh hasil panen dihimpun terlebih dahulu sebelum dilakukan transaksi. Dengan volume yang lebih besar, kelompok memiliki daya tawar yang lebih kuat sehingga pembeli harus bersaing memberikan harga terbaik apabila ingin memperoleh pasokan porang dari KTP Bumi Pajo.
Menurutnya, pengalaman selama beberapa musim panen membuktikan bahwa sistem jual bersama mampu menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Ketika hasil panen dijual secara terpisah, tidak sedikit petani yang menerima harga lebih rendah karena keterbatasan informasi pasar atau kebutuhan mendesak untuk segera menjual hasil panennya. Sebaliknya, melalui sistem kolektif, kelompok dapat melakukan negosiasi dengan lebih leluasa sehingga harga yang diterima anggota menjadi lebih adil, transparan, dan menguntungkan bagi semua pihak.











