“Porang tidak mengganggu pola tanam jagung. Penanamannya dapat dilakukan sebelum jagung ditanam, sedangkan perawatannya relatif ringan. Ketika jagung dipanen, porang tetap tumbuh dan terus membesarkan umbinya. Artinya, satu lahan bisa menghasilkan dua sumber pendapatan,” jelasnya.
Dari sisi ekonomi, porang menjadi tanaman yang sangat menjanjikan karena umbinya mengandung glukomanan, serat alami yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, mie rendah kalori, beras shirataki, kosmetik, farmasi, hingga berbagai produk kesehatan. Permintaan pasar yang terus meningkat membuat harga porang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang menggembirakan dan menjadi peluang usaha bagi petani di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Bima.
Keuntungan lain yang tidak kalah penting adalah biaya budidayanya relatif rendah. Setelah bibit ditanam, petani hanya perlu melakukan penyiangan gulma, pemupukan sesuai kebutuhan, dan menjaga tanaman dari serangan hama maupun penyakit. Tanaman ini juga mampu menghasilkan bibit baru melalui katak (bulbil) maupun umbi sehingga kebutuhan bibit pada musim berikutnya dapat dipenuhi dari kebun sendiri. Kondisi tersebut menjadikan porang sebagai investasi pertanian jangka panjang yang mampu meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan.
Melihat besarnya potensi tersebut, Kelompok Tani Porang Bumi Pajo terus mengajak masyarakat untuk mulai memanfaatkan lahan yang belum produktif dengan menanam porang. Dengan memilih masa tanam yang tepat, memahami syarat tumbuh tanaman, serta menerapkan teknik budidaya yang baik, porang diyakini akan menjadi salah satu komoditas unggulan yang mampu memperkuat perekonomian masyarakat Desa Bumi Pajo dan Kabupaten Bima pada masa mendatang.










